Sunday, May 20, 2012

The Only Shelter in the Storm - Satu satunya tempat perlindungan diketika ribut melanda


It’s never easy to stand when the storm hits. As soon as it starts raining, lightning shortly follows. Dark clouds replace the sun and all you can see are the waves of an ocean, once calm, surrounding you. No longer able to find your way, you reach out for help.

Ia tidak pernah mudah untuk berdiri ketika ribut melanda. Sebaik sahaja ia hujan, kilat mula bersabung. Awan hitam menggantikan mentari dan apa yang dapat dilihat hanyalah ombak lautan air, yang dulunya tenang, mengelilingi kita. Kerana tidak lagi mampu mencari jalan keluar, kita menggapai bantuan.

You begin by calling the coast guard. No reply. You try again to redirect the boat. No use. You look for the lifeboat. It’s gone. You reach for a life jacket. Torn. Finally after you’ve exhausted every means, you turn your face upward.

And ask God.

Kita bermula dengan memanggil penyelamatan pantai. Tiada jawapan. Kita cuba lagi mengemudi sampan. Tiada guna. Kita mencari boat penyelamat. Ia sudah pergi. Kita mencapai baju keselamatan. Koyak. Akhirnya setelah segalanya menemui kebuntuan, kita mendongak ke langit.

Meminta pada Allah S.W.T.
But there’s something completely unique about this moment. At this instant, you experience something you otherwise could only theorize about: true tawheed. Oneness. See, on shore, you may have called on God. But you called on Him along with so many others. You may have depended on God. But you depended on Him along with so many other handholds. But for this singular moment, everything else is closed. Everything. There is nothing left to call on. Nothing left to depend on. But Him.
And that’s the point.
Tetapi ada sesuatu yang sangat unik mengenai keadaan ini. Ketika ini, kita melalui sesuatu pengalaman yang selama ini kita hanya berteori: tauhid yang sebenar. Hanya satu. Bila difikirkan, di pantai kita mungkin memanggil Allah S.W.T .Tetapi kita memanggilNya bersama juga memanggil yang lain. Kita mungkin bergantung harap pada Allah S.W.T. Tetapi berharap pada Allah S.W.T berserta dengan berharap bantuan yang lainnya. Tapi pada saat ini, semuanya tiada. Semua. Tiada siapa yang boleh dipanggil lagi. Tiada siapa untuk diharapkan lagi. Kecuali Dia.
Dan itulah dia.
Do you ever wonder why when you’re most in need, every door you seek of the creation remains closed? You knock on one, but it’s slammed shut. So you go to another. It’s also shut. You go from door to door, knocking, pounding on each one, but nothing opens. And even those doors you had once depended on, suddenly shut. Why? Why does that happen?
Pernah tak terfikir bila masa kita dalam keadaan sangat memerlukan, setiap pintu jalan keluar yang dicipta tetap tertutup? Bila kita mengetuk satu pintu lalu ia dihempas tutup. Kita cuba pada pintu yang lain. Ia juga tutup. Kita pergi dari pintu ke pintu, mengetuk, menghentam setiap satunya, tapi tiada satu pon terbuka. Walaupon satu satunya pintu yang selalu kita harapkan dulu, juga tiba tiba tertutup. Mengapa? Mengapa ia terjadi?
See, we humans have certain qualities which God knows well. We are constantly in a state of need. We are weak. But, we are also hasty and impatient. When we are in trouble, we will be pushed to seek assistance. And that’s the design. Why would we seek shelter if it’s sunny and the weather is nice? When does one seek refuge? It is when the storm hits. So Allahsubahanahu wa ta`ala (exlated is He) sends the storm; He makes the need through a created situation, so that we will be driven to seek shelter.
Kita lihat, kita sebagai manusia mempunyai kualiti yang tertentu di mana Allah sangat mengenalinya. Kita sentiasa memerlukan. Kita ini lemah. Tapi kita juga bersifat terburu buru dan tidak sabar. Bilamana kita di dalam kesusahan,kita akan terdesak untuk mencari bantuan. Dan itulah kejadiannya. Mengapa kita perlu mencari perlindungan jika cuaca baik? Masa bila seseorang mencari perlindungan? Ialah ketika ribut melanda. Jadi Allah S.W.T menghantarkan ribut; Dia jadikan keperluan di dalam situasi yang diciptakanNya, supaya kita terdorong mencari perlindungan.
But when we do seek assistance, because of our impatience, we seek it in what is near and what seems easy. We seek it in what we can see and hear and touch. We look for shortcuts. We seek help in the creation, including our own selves. We look for help in what seems closest. And isn’t that exactly what dunya (worldly life) is? What seems near. The word ‘dunya’ itself means ‘that which is lower’. Dunya is what seems closest. But, this is only an illusion.
There is something closer.


Tapi bila kita mencari bantuan, disebabkan ketidaksabaran kita, kita akan mencarinya di tempat yang berdekatan atau yang paling senang. Kita cari pada tempat yang kita boleh nampak, dengar dan capai. Kita mencari jalan pintas. Kita mencari bantuan dari ciptaanNya, termasuklah bergantung pada diri kita sendiri. Kita mencari bantuan di mana yang dirasakan paling dekat. Dan bukankah ianya dunia? yang dirasakan dekat. Perkataan 'dunya' itu sendiri bererti 'yang lebih rendah'. Dunya yang tampak paling dekat. Tetapi, ini hanyalah ilusi.


Ada yang lagi dekat.
Think for a moment about what’s nearest to you. If asked this question, many would say it is the heart and the self that are nearest. But, Allah (swt) says:

Fikirkan sejenak mengenai apa yang dirasakan paling dekat dengan kita. Jika ditanya soalan ini, ramai yang mengatakan ianya hati dan diri sendiri yang paling dekat. Tetapi, Allah S.W.T berfirman:
50:16
“It was We Who created man, and We know what dark suggestions his nafs (self) makes to him: for We are nearer to him than (his) jugular vein,” (Qur’an 50:16).
Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (http://www.quranexplorer.com/Quran/Default.aspx  50:16)
In this verse, Allah (swt) begins by showing us that He knows our struggles. There is comfort in knowing that someone sees our struggles. He knows what our own self calls us to. But He is closer. He is closer than our own self and what it calls for.  He is closer than our jugular vein. And why the jugular? What is so striking about this part of us? The jugular vein is the most important vein that brings blood to the heart. If severed, we die almost immediately. It is literally our lifeline. But Allah (swt) is closer. Allah (swt) is closer than our own life, than our own Self, than our own nafs. And He is closer than the most important pathway to our heart.

Di dalam ayat ini, Allah S.W.T mula menunjukkan bahawa Dia tahu kesusahan kita. Ia merupakan suatu ketenangan bila mengetahui bahawa ada yang tahu tentang kesusahan kita. Dia tahu apa yang diri kita sendiri seru daripada diri kita. Tetapi Dia lebih dekat. Dia lebih dekat dari diri kita sendiri dan apa yang diseru. Dia lebih dekat dari urat leher kita. Mengapa leher? Apa yang menonjol pada bahagian kita yang ini? Urat leherlah urat yang paling penting yang membawa darah ke jantung. Sekiranya ia cedera teruk, kita boleh mati hampir serta merta. Ia seumpama nyawa kita. Tetapi Allah S.W.T lebih dekat lagi. Allah S.W.T lebih dekat dari nyawa kita, dari diri kita, dari nafsu kita. Serta Dia lebih dekat dari laluan paling penting ke jantung kita.  
In another verse, Allah (swt) says:

Di dalam ayat yang lain, Allah S.W.T berfirman:
8:24
“O ye who believe! give your response to Allah and His Messenger, when He calleth you to that which will give you life; and know that Allah cometh in between a man and his heart, and that it is He to Whom ye shall (all) be gathered,” (Qur’an 8:24).

Wahai orang-orang yang beriman, sahut dan sambutlah seruan Allah dan seruan RasulNya apabila Dia menyeru kamu kepada perkara-perkara yang menjadikan kamu hidup sempurna dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah berkuasa mengubah atau menyekat di antara seseorang itu dengan (pekerjaan) hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dihimpunkan. (http://www.quranexplorer.com/Quran/Default.aspx  8:24) 
Allah (swt) knows we have a nafs. Allah knows we have a heart. Allah knows that these things drive us. But Allah tells us that He is closer to us than even these. So when we reach for other than Him, we are not only reaching for what is weaker, we are also reaching past what is closer, for what is further and more distant. Subhan Allah (Glory be to God).

Allah S.W.T tahu kita mempunyai nafsu. Allah S.W.T tahu kita mempunyai hati. Allah S.W.T tahu perkara ini yang mendorong kita. Namun Allah memberitahu bahawa Dia lebih dekat dari semua ini. Jadi bila kita menggapai pada selain Dia, kita bukan sahaja mencapai pada sesuatu yang lebih lemah, kita juga mencapai sesuatu yang jauh dari yang dikatakan dekat, pada apa yang lebih jauh dan lebih jarak. Subhanallah.


So since this is our nature, as Allah (swt) knows best, He protects and redirects us by keeping all other doors of refuge closed during the storm. He knows that behind each false door is a drop. And if we enter it, we will fall. In His mercy, He keeps those false doors closed.

Jadi oleh kerana ini adalah sifat kita, Allah S.W.T maha mengetahui, Dia melindungi kita dan mendorong kita dengan memastikan semua pintu perlindungan tertutup ketika ribut melanda. Dia tahu disebalik setiap pintu palsu ialah kejatuhan. Dan sekiranya kita masuk melalui pintu tersebut, kita akan jatuh. Di dalam ihsanNya, Dia terus menutup setiap pintu palsu tersebut.

In His mercy, He sent the storm itself to make us seek help. And then knowing that we’re likely to get the wrong answer, He gives us a multiple choice exam with only one option to choose from: the correct answer.  The hardship itself is ease.  By taking away all other handholds, all other multiple choice options, He has made the test simple.

Di dalam IhsanNya, Dia menghantar ribut bagi mendorong kita mencari bantuan. Dan mengetahui bahawa kita sering tersalah dalam mencari jawapan. Dia memberi soalan berbagai pilihan dengan hanya satu pilihan jawapan: jawapan yang betul. Setiap kesulitan menjadi reda. Dengan mengambil semua pautan, semua pilihan, Dia telah menjadikan ujian lebih mudah.

It’s never easy to stand when the storm hits. And that’s exactly the point. By sending the wind, He brings us to our knees: the perfect position to pray.

Ia tidak pernah mudah untuk berdiri ketika ribut melanda. Dan itulah yang sepatutnya. Dengan menghantar angin, kita berlutut: posisi yang sempurna untuk kita berdoa. 

No comments:

Post a Comment